Puting beliung terjadi di Pangandaran


Angin puting beliung terjadi di Pangandaran. Peristiwa terjadi Pk.04.00 tgl 14 Februari 2012.

Angin kencang tersebut menyebabkan kerusakan pada kios-kios di pinggir pantai 234, 2 hotel rusak ringan, rmh warga 8 rusak ringan, kapal besar 3 rusak berat, 14 rusak ringan, perahu nelayan 1 rusak ringan.

Sumber : Dedi Turjana ( Koordinator TAGANA Jawa Barat )

Posted by Telkomsel Blackberry – Charles –

Longsor menimpa 3 desa di Kab. Bandung Barat


Terjadi longsor di 3 desa, pada hari senin jam 19.00 WIB,di Kecamatan Cililin Kab.Bandung Barat tepatnya di Desa Karya Mukti. Data yang diperoleh 5 rumah rusak berat,5 rusak sedang, 7 rumah terancam. Lalu di Desa Kidang Pananjung 19 rumah terancam. Di Desa Nangerang, 1 rumah rusak berat, 2 rumah terancam.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Warga mengungsi ke rumah warga lain yang lebih aman.

Berita : Dedi Turjana ( Koord.TAGANA Jawa Barat )

Posted by Telkomsel Blackberry – Charles –

Delapan Desa Rawan Bencana I


MALANG – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru mengancam delapan desa di wilayah Kabupaten Malang. Kedelapan desa itu ditetapkan masuk kategori rawan bencana I, yakni potensi terdampak hujan abu.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang sudah melakukan sosialisasi terhadap warga untuk antisipasi bencana. Termasuk menyiapkan sebanyak 50 ribu masker.

Kepala BPBD Kabupaten Malang, Eka Hafi Lutfi mengatakan, delapan desa itu tersebar di empat kecamatan yang berbatasan dengan Semeru di Lumajang. “Kami sudah melakukan sosialisasi ke warga, kalau ada hujan abu segera menggunakan masker atau menggunakan sarung dan alat bantu lainnya,” kata Lutfi, Rabu (8/2).

Kedelapan desa itu antara lain, Desa Lebakharjo, Taman Argoyuono, Taman Sari dan Mulyo Asri di Kecamatan Ampelgading. Desa Taman Santrean Kecamatan Tirtoyudo, Desa Mbambang Kecamatan Wajak, Desa Sumberejo dan Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo.

Kedelapan desa itu hanya berjarak antara 5 Km – 10 Km dari Gunung Semeru. Hujan abu sudah pernah menerpa sejumlah desa diantara desa tersebut pada 2008 dan 2002 silam. “Desa – desa itu memang cukup dekat dengan Semeru. Warga setempat juga sudah paham kalau ada sesuatu harus berbuat apa. Misalnya, kalau sudah berbahaya mereka tahu harus bergerak kemana,” tandas Lutfi.

Selain kedelapan desa itu, bahaya banjir bandang akibat luapan sungai yang dipenuhi lahar dingin juga mengancam. Ada tiga sungai yang diwaspadai bisa menimbulkan banjir, yaitu sungai Grangsel dan sungai Menjing yang terletak di Kecamatan Ampelgading dan Kecamatan Tirtoyudo. Juga ada sungai Glidik yang menjadi muara sungai tersebut.

“Kalau di bagian atas atau wilayah Lumajang lahar dingin Semeru cukup besar, ketiga sungai itu meluap dan banjir. Apalagi kalau intensitas hujan cukup tinggi, banjir bandang mengancam wilayah Ampelgading dan Tirtoyudo,” urai Lutfi.

Pihak BPBD Kabupaten Malang sudah memiliki relawan di desa – desa tersebut. Mereka terus memantau kondisi terakhir dan bisa mengambil keputusan saat dirasa perlu. “Kami berupaya memberikan sosialisasi tanpa membuat warga kawatir, karena itu malah bisa membahayakan warga sendiri,” tutur Lutfi.

Sementara itu, Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Malang, Twi Adi mengatakan, pihaknya juga melakukan pendataan penduduk di desa yang dinyatakan rawan itu.

Data penduduk yang bermukin di lereng Gunung Semeru segera dilaporkan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur. “Agar memudahkan penanganan saat terjadi bencana letusan Gunung Semeru,” kata Twi.

Tagana menyiapkan tenda pengungsian dan logistik jika sewaktu-waktu terjadi letusan. Selain masker, obat batuk dan tetes mata juga disiapkan. “Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan di lapangan,” pungkas Twi.

Sumber : http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=aaad28439c2d045dff19711f621901f5&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

 

Peningkatan Status G. Semeru dari Waspada menjadi Siaga


I. PENDAHULUAN

Gunungapi Semeru merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia. Secara geografis terletak pada 08°06’30” lintang selatan dan 112°55‘00”  bujur timur  dengan tinggi puncaknya (Mahameru3676 m dpl. Morfologi G. Semeru menunjukkan bentuk kerucut yang bagus, akan tetapi hakekatnya puncaknya sangat rumit, hal ini disebabkan oleh berulangkali menggesernya kawah dari barat laut ke tenggara. Tipe letusan G. Semeru merupakan tipe campuran, yaitu tipe Volcano diselingi dengan letusan tipe Stromboli. Produk letusan utama dari G. Semeru adalah lontaran material pijar, guguran awanpanas dan lahar di musim hujan masuk ke sungai-sungai yang berhulu di G. Semeru.

Awan panas terbesar terjadi pada 31 Desember 2002 masuk ke Besuk Bang dengan jarak luncur 11 km dari puncak dan sekitar 501 orang di ungsikan. Pada tanggal 5 Mei 2009 Status aktivitas G. Semeru dinaikan dari Waspada menjadi Siaga, dan pada tanggal 16 Juli 2009, pukul 10.00 WIB status G. Semeru diturunkan dari Siaga (Level III) menjadi Waspada (Level II).

 II. PEMANTAUAN

 

2.1.Visual

 

  • Pemantauan secara visual terhadap puncak G. Semeru dari tanggal 29 Desember 2011 hingga 15 Januari 2012 teramati 8 kali letusan warna putih kelabu dari Kawah Jongring Seloko, agak tebal – tebal, tekanan sedang dengan tinggi berkisar 100 – 600 meter dari puncak condong ke arah barat dan utara.
  • Periode 29 – 31 Desember 2011, teramati 4 kali letusan warna putih kelabu agak tebal, 1 kali hembusan asap dari Kawah Jongring Seloko, warna letusan dan hembusan putih-kelabu tebal dengan tinggi 100 – 400 meter dari puncak. Tanggal 29 Desember 2011 teramati 1 (satu) kali guguran lava dengan jarak luncur 300 m.
  • Periode 1 – 3 Januari 2012, teramati  1 (satu) kali letusan dari kawah Jongring Seloko, warna putih tebal dengan tinggi 600 meter dari puncak.
  • Periode 4 – 6 Januari 2012, teramati 3 kali letusan, saat jelas teramati warna putih kelabu tebal, tekanan lemah-sedang dengan tinggi berkisar 300 – 600 meter dari puncak. Tanggal 6 Januari 2012, pukul 21.03 WIB teremati letusan disertai suara dentuman, warna putih kelabu tebal dengan tinggi asap 600 meter dari puncak.

Pukul 22:09 teramati sinar api diam di kawah Jonggring Seloka disertai guguran lawa pijar sejauh 200 meter.

  • Periode 7 – 9 Januari 2012, teramati 1 kali hembusan asap teramati warna putih kelabu tebal, tekanan sedang dengan tinggi 300 meter dari puncak.
  • Periode 10 – 12 Januari 2012, puncak G. Semeru tertutup kabut.
  • Periode 13 – 14 Januari 2012, tanggal 13 Januari 2012 teramati sinar api diam disertai guguran lava pijar pukul 03.30 – 04.29 WIB, 18.21 WIB, pukul 18.27 WIB dan pukul 20.19 hingga 20.30 WIB.  Hembusan asap tidak teramati.
  • Tanggal 15 -23 Januari 2012, Cuaca terang, angin tenang, teremati 4 kali sinar api di Kawah Jongring Seloko tinggi 25 – 50 m di atas puncak.
  • Tanggal 24 – 25 Januari 2012, cuaca cerah, angin tenang, teramati sinar api tinggi 25 m di atas puncak, teramati juga guguran lava pijar.
  • Tanggal 26 – 29 Januari 2012, Cuaca cerah, angin tenang, tidak teramati sinar api diam.
  • Tanggal 30 – 31 Januari 2012, teramati 5 kali guguran lava pijar, masuk ke Besuk Kembar dengan jarak luncur 400 m dari bibir kawah.
  • Tanggal 1 – 2 Februari 2012, cuaca cerah, angin tenang, pada tanggal 2 Februari 2012, pukul 00.34 WIB teramati Guguran awan panas dengan jarak luncur 300 m dari bibir kawah Jongring Seloko. Pukul 07.47 WIB teramati guguran awan panas di ujung leleran lidah lava yang berjarak 750 m dari bibir kawah dengan jarak luncur 2500 m dari bibir kawah Jongring Seloko.

2.2. Kegempaan

  • Periode 29 – 31 Desember 2011, terekam 4 kali Gempa Letusan, 7 kali Gempa Guguran, 216 kali Gempa Hembusan, 2 kali Gempa Banjir, 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 5 – 9 mm, s-p 3-4 detik dan lama gempa 18 – 25 detik, 5 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) amplituda maksimum 5 – 32 mm dan lama gempa 45 – 200 detik.
  • Periode 1 – 9 Januari 2012, terekam 4 kali Gempa Letusan, 36 kali Gempa Guguran, 633 kali Gempa Hembusan, 3 kali Gempa Tremor dengan amplituda maksimum 1,7 – 3,5 mm dan lama gempa 56,6 – 163 detik. 4 kali gempa Vulkanik dalam (VA) dengan amplituda maksimum 2 mm, s-p 2 detik dan lama gempa 13,5 detik, dan 11 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 3 – 25 mm dan lama gempa 39,5 – 410 detik.
  • Periode 10 – 20 Januari 2012, terekam 84 kali Gempa Guguran, 431 kali Gempa Hembusan. 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB),  11 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 17 mm, s-p 1-2,5 detik dan lama gempa 13 – 21 detik dan 21 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 2 – 14 mm dan lama gempa 35 – 125 detik.
  • Periode 21 – 31 Januari 2012, terekam 29 kali Gempa Guguran, 924 kali Gempa Hembusan dan 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 17 mm, sp 1-1,5 detik dan lama gempa 14 – 20 detik dan 23 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 33 mm dan lama gempa 105 detik.
  • Periode 1 – 2 Februari 2012, sampai dengan pukul 14.00 WIB, terekam 4 kali Gempa Awan Panas Guguran, 22 kali Gempa Guguran,128 kali Gempa Hembusan, 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).

III. POTENSI BAHAYA
Pada status Siaga (Level III), ancaman bahaya erupsi G. Semeru sebagai berikut :

  • Sering terjadi letusan/hembusan dari Kawah Jongring Seloko melontaran material vulkanik berupa batu/batu pijar mencapai radius 1 km dari Kawah Jongring Seloko termasuk wilayah Mahameru.
  • Karakter umum kegiatan G. Semeru pra kejadian letusan tanggal 15 Maret 2009 adalah letusan abu vulkanik yang diikuti semburan lava pijar, dan pertumbuhan kubah lava. Letusan berlangsung dengan interval 20 – 30 menit.
  • Saat ini sering teramati api diam dan guguran lava pijar yang menyebabkan terjadinya penumpukan material vulkanik di sekitar Kawah Jongring Seloko dan berpotensi terjadinya guguran awan panas dengan jarak luncur lebih dari 5 km dari puncak, pada saat musim hujan wilayah yang berpotensi terkena ancaman material vulkanik baik awan panas maupun lahar adalah Dusun Rowo Baung dan Dusun Supit yang termasuk wilayah Desa Pronojiwo; Dusun Urip di Desa Sumber Urip, Dusun Kamar A dan Dusun Umbulandi di Desa Supit Urang. Dua dusun yaitu Dusun Rowo Baung dan Dusun Supit merupakan dusun yang terdekat dengan pusat letusan yang berlokasi kurang lebih 9 km dari puncak G. Semeru. Sungai-sungai yang harus tetap diwaspadai karena ancaman awan panas maupun lahar adalah Sungai Besuk Bang, Sungai Kobokan dan Sungai Besuk Kembar. Potensi ancaman tersebut semakin tinggi oleh keberadaan aktifitas penambangan pasir di dusun Supit dan Dusun Rowo Baung.
  • Kejadian guguran awan panas dengan jarak luncur 11 km seperti tahun 2002-2003 dan letusan pada tanggal 9, 14 dan 17 Juni 2011 berpotensi terulang berupa lontaran material lebih dari 1 km dari Kawah Jongring Seloko.dan guguran awan panas tanggal 2 Februari 2012, pukul 7.47 WIB dengan jarak luncur 2500 m, berpotensi terulang dengan jarak luncur lebih jauh.

IV. KESIMPULAN

  • Berdasarkan pengamatan visual, teramati hembusan/letusan asap dengan warna putih kelabu tebal dengan tinggi mencapai 100 – 600 meter dari puncak.
  • Semakin intensifnya api diam/sinar api di kawah Jongring Seloko dan guguran lava pijar dan guguran awan panas.
  • Aktivitas Vulkanik dalam status Siaga G. Semeru masih tinggi.
  • Kegempaan masih didominasi oleh Gempa Hembusan, Gempa Guguran, Gempa Vulkanik dan Gempa Tektonik Jauh.
  • Berdasarkan hasil pemantauan secara visual dan kegempaan di G. Semeru serta analisis data tersebut terhitung tanggal 2 Februari 2012 pukul 17.00 WIB, Status kegiatan G. Semeru dinaikan dari  Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III).

V. REKOMENDASI
Sehubungan dengan status Siaga G. Semeru maka direkomendasikan sebagai berikut:

  1. Masyarakat tidak melakukan aktifitas di wilayah sejauh 4 km di seputar lereng tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.
  2. Saat letusan/hembusan dari Kawah Jongring Seloko sering terjadi lontaran material vulkanik berupa batu/batu pijar, maka para pendaki/pengunjung dilarang mendekat kawah dalam radius 1 km dari Kawah Jongring Seloko.
  3. Berpotensi terjadinya guguran awan panas dengan jarak luncur lebih dari 5 km dan masih banyak endapan material vulkanik lepas di sekitar kawah dan puncak, maka jika terjadi hujan di daerah puncak masyarakat yang bermukim di bantaran sungai dan yang beraktifitas di dalam Sungai Besuk Kembar, Besuk Kobokan dan Besuk Bang harap selalu berhati-hati karena dapat terancam bahaya aliran lahar.
  4. Masyarakat agar tetap tenang, tidak terpancing isu-isu terkait dengan aktivitas G. Semeru yang tidak jelas sumbernya. Untuk itu masyarakat dapat berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Semeru di G. Sawur atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung.
  5. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang harap melakukan sosialisasi ke masyarakat yang berada di Dudun Supit, Rawa Baung dan yang beraktifitas dan bermukim di bantaran Besuk Kembar. Besuk Kobokan dan Besuk Bang  agar siap siaga mengantisipasi jiga terjadi erupsi G. Semeru berupa guguran awan panas secara tiba-tiba.
  1. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi akan selalu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Lumajang, BPBD Kabupaten Malang dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Sumber : Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ( PVMBG )

Kecamatan Mundu Terendam Banjir


MUNDU – Akibat hujan besar yang mengguyur wiilayah Cirebon dan sekitarnya selama beberapa jam, sebagian besar desa-desa di Kecamatan Mundu, pada Minggu malam (5/2) hingga Senin dinihari (6/2) kemarin terendam banjir. Rata-rata ketinggian air mencapai 1 meter sehingga menyebabkan ratusan rumah dan puluhan hektar sawah milih masyarakat setempat terendam.
Tercatat dari data yang dihimpun Radar, desa-desa yang terendam banjir adalah Mundumesigit, Mundu Pesisir, Bandengan, Luwung, Penpen dan Setupatok. Bahkan, menurut informasi, Desa Banjarwangunan, Pamengkang dan Suci juga ikut terendam.
Raden Udin, Kuwu Mundumesigit menyebutkan ada 3 blok yang terendam banjir yakni blok Sinabe, Mesigit dan Kenari. Rata-rata ketinggian air ketiga blok tersebut mencapai lutut orang dewasa, sehingga ratusan rumah terendam air. “Kira-kira ada 200 rumah yang kebanjiran dari 3 blok itu,” sebutnya.
Selain pemukiman penduduk, puluhan hektar sawah padi yang baru saja memasuki masa tanam ini ikut terendam, sehingga banyak benih padi yang terseret arus air. “Kami mencacat ada 25 hektar sawah padi yang harus ditaman kembali, karena benihnya hilang terbawa arus air banjir,” katanya.
Menurutnya, banjir yang terjadi di wilayahnya ini diakibatkan oleh air kiriman yang berasal dari desa Penpen melalui saluran irigasi sekunder dan sungai Cilopenganten. “Air limpas dan saluran pembuangannya pun terhambat, karena Desa Bandengan dan Mundupesisirnya pun mengalami bajir sehingga air tak bisa bergerak menuju daerah hilir,” tuturnya.
Beruntung, banjir ini tak sampai membutuhkan waktu yang lama, karena menjelang pagi hari air sudah mulai surut dan ketika siang hari sudah tak ada genangan air lagi. “Air hanya lewat saja,” ungkapnya.
Nasib yang sama juga dialami oleh Desa Luwung, tetangga desa Mundumesigit ini ada sekitar 4 blok yang terendam air yakni blok Kinaija, Lemahabang, Bulak dan Karanglebak. Tercatat ada sekitar 200 rumah yang terendam air dengan ketinggian pinggang orang dewasa. “Air berasal dari Desa Mundumesigit dan tanggul Sungai Cilopenganten yang limpas,” kata Kuwu Desa Luwung, R Ahmad Kosasih.
Sebelumnya, Desa Luwung juga mengalami banjir pada jum’at malam (3/2). Namun, ketinggian airnya tak setinggi pada banjir kali ini. “Berarti dua hari desa kami kebanjiran,” ucapnya.
Begitu juga dengan Desa Bandengan, di sana ada dua RW yang mengalami banjir yakni RW 02 dan RW 03. Menurut Kuwu Desa Bandengan, Moh Sofyan di kedua RW itu ada sekitar 100 rumah yang kemasukan air. “Tingginya selutut orang dewasa,” tuturnya.
Banjir yang menggenangi pemukiman di desa yang terletak di bibir pantai Pulau Jawa ini, berasal dari kiriman Desa Mundumesigit ditambah air laut pasang, sehingga air tidak bisa bergerak kemana-mana. “Ya ibaratnya desa kami terkepung oleh air,” ucapnya.

Sementara itu, desa yang terparah terkena bencana banjir dan hingga siang kemarin belum juga surut adalah Desa Mundu Pesisir. Di desa yang berbatasan langsung dengan wilayah Kota Cirebon ini terdapat 300 rumah yang terendam air yang berasal dari limpasan sungai Grobogan dan sungai Kalijaga.
“Ada tiga blok yang terendam air yakni Blok Karanganyar, Karangtajug dan Kalijaga. Jika hari ini (kemarin, red) air tidak surut berarti sudah tiga hari banjir yakni hari Sabtu, Minggu dan Senin,” kata Agus Kholiq, Kuwu Desa Mundupesisir.
Berbeda dengan desa lainnya, Desa Penpen cukup beruntung, karena hanya ada 25 rumah saja yang terendam, itu pun hanya di sekitar pelataran rumah warga. “Banjir hanya di dua RT saya, yakni RT 02 dan 05 RW 02. Itu pun Cuma limpasan dari saluran irigasi dan dalam waktu dua jam air sudah surut kembali,” tandas Kuwu Desa Penpen, Juhana.
Banjir merupakan hal yang sudah biasa terjadi di sebagian desa yang ada di Kecamatan Mundu. Hampir setiap tahun, terutama dua tahun terakhir ini banjir selalu melanda wilayah ini. “Penyebabnya adalah pendangkalan dan penyempitan sungai-sungai terutama di wilayah hilir, sehingga aliran air menuju muara sungai tak maksimal,” pungkas Agus Kholiq. (jun)

 

Sumber : http://radarcirebon.com/2012/02/07/kecamatan-mundu-terendam-banjir/

Tagana Subang Bikin Peta Potensi Bencana


Tagana Subang Bikin Peta Potensi Bencana

Taruna Siaga Bencana (Tagana) Subang akan melakukan mapping (pemetaan) potensi bencana di sejumlah titik potensi bencana alam. –

INILAH.COM, Subang – Taruna Siaga Bencana (Tagana) Subang akan melakukan mapping (pemetaan) potensi bencana di sejumlah titik potensi bencana alam.

Daerah yang menjadi sasaran pemetaan adalah Subang bagian Utara dan daerah pegunungan atau Subang selatan. Di daerah utara, potensi bencana berupa banjir, sementara di daerah selatan adalah tanah longsor.

“Secara umum memang demikian, tapi kita ingin memetakan lebih rinci, tidak hanya titk bencananya saja, tapi jalur evakuasi, tempat evakuasi sampai pendirian dapur,” kata Koordinator Tagana Subang Jajang Abdul Muhaimin kepada INILAH.COM, Senin (6/2/2012).

Sejauh ini, upaya itu tidak pernah dilakukan. Terlebih dengan tidak adanya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Penanganan bencana alam sejauh ini bersifat insidensial atau bergerak hanya pada saat bencana alam terjadi.

Nah, dari pemetaan ini akan memudahkan pada saat bencana itu terjadi. Tinggal kita evakuasi jika diperlukan. Sebelumnya kan tidak ada pemetaan,” imbuhnya.

Di tempat yang sama, Jajang merilis tanda-tanda berpotensi bencana. Dari hasil kajian tim Tagana, tanda-tanda berpeluang bencana alam itu, di antaranya jika cuaca panas tiba-tiba mendung awan hitam bergelombang.

Saat kondisi seperti itu warga diminta waspda kemungkinan terjadinya hujan disertai angin puting beliung. Sementara ketika bencana banjir, imbuh Jajang, warga diminta tidak panik. Jika memungkinkan menyelamatkan barang-barang, lakukan sesuai kemampuan. Namun tetap harus prioritas menyelamtakan diri.

“Sementara untuk daerah pegunungan, jika terjadi hujan lebat dan ada retakan tanah di gunung dan air hujan berwarna merah waspada terhadap bencana longsor. Namun warga jangan panik, tetap harus bisa mengendalikan diri,” imbuh Jajang.[jul]

Sumber : http://www.inilahjabar.com/read/detail/1827124/tagana-subang-bikin-peta-potensi-bencana